Terakhir diperbarui 29 Oktober 2026

MDGWIN | Game Edukasi Kesehatan Cara Kerja dan Bukti yang Ada

MDGWIN Game edukasi kesehatan mengajarkan materi kesehatan, misalnya gigi, lewat permainan. Pelajari cara menyusunnya, dengan contoh soal pre-test dan post-test.

Oleh Prabowo Sumanto

Ringkasan

  • Game edukasi kesehatan mengajarkan materi lewat kuis, diskusi, dan permainan kelompok. MDGWIN memakai Bamboozle untuk materi gigi dan mulut di SDN 01 Cilandak Timur.
  • Studi pra-eksperimen di Bandung pada 2025 mencatat skor pengetahuan kesehatan gigi siswa naik dari 93% menjadi 100%, tetapi studi itu tidak punya kelompok pembanding.
  • Kegiatan MDGWIN belum melaporkan hasil terukur, sehingga dampaknya masih berupa harapan.
  • WHO memasukkan gangguan bermain game (gaming disorder) ke dalam ICD-11 dan mengingatkan pemain untuk memperhatikan lama bermainnya.
  • Ukur hasil permainan di kelas Anda dengan pre-test dan post-test sederhana sebelum menyimpulkan bahwa permainan itu berhasil.

Cara kerja game edukasi kesehatan

Game edukasi kesehatan adalah permainan yang dirancang untuk mengajarkan informasi kesehatan, seperti cara menyikat gigi, pencegahan gigi berlubang, dan pola makan sehat, sambil bermain. Metode ini dipakai di sekolah dasar karena kuis dan permainan kelompok dianggap bisa membuat siswa lebih aktif.

Dua bentuk utama

Secara umum, ada permainan fisik, seperti papan dan kartu tanya-jawab, serta permainan digital, seperti kuis berbasis web yang bisa diikuti dari ponsel atau laptop. Keduanya tidak saling menggantikan.

Tabel 1. Perbandingan dua bentuk game edukasi kesehatan
AspekPermainan fisikPermainan digital
ContohMonopoli kesehatan gigi, kartu tanya-jawabKuis berbasis web seperti Bamboozle
PerangkatPapan atau kartu cetakPonsel atau laptop
Koneksi internetTidak diperlukanDiperlukan
Cocok untukKelas tanpa perangkatKelas dengan perangkat dan koneksi stabil

Contoh dari MDGWIN

Pada 24 Juli 2026, MDGWIN mempublikasikan kegiatan pengabdian masyarakat yang memakai kuis Bamboozle untuk mengajarkan kesehatan gigi dan mulut di SDN 01 Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Halaman publikasinya tidak menyebutkan tanggal pelaksanaan, jumlah siswa, atau nama tim pelaksana.

Materi

Fungsi gigi, penyebab gigi berlubang (karies), cara mencegahnya, waktu dan teknik menyikat gigi, serta pilihan makanan dan minuman yang baik untuk gigi.

Metode

Permainan edukatif Bamboozle, kuis interaktif, diskusi, dan permainan kelompok. Pendekatannya disebut metode belajar sambil bermain.

Dampak yang diharapkan

Edukasi lebih menarik, partisipasi siswa meningkat, dan kebiasaan hidup sehat terbentuk sejak dini. Halaman itu tidak melaporkan pre-test, post-test, kuesioner, atau data perilaku siswa, sehingga klaim ini belum bisa diuji.

Jika Anda ingin meniru pendekatan ini, catat sejak awal jumlah peserta, lama sesi, dan hasil sebelum serta sesudah kegiatan.

Baca laporan kegiatan

Bukti yang ada: apa yang sudah dan belum dibuktikan

Bukti yang paling terukur datang dari Poltekkes Kemenkes Bandung. Penelitiannya tentang permainan monopoli kesehatan gigi, dipublikasikan pada 2025 (DOI 10.34011/juriskesbdg.v17i1.2709), dengan 43 siswa kelas V dan VI sekolah dasar sebagai sampel. Desainnya pra-eksperimen satu kelompok, jadi peneliti membandingkan kondisi peserta sebelum dan sesudah perlakuan, bukan dengan kelompok lain.

Siswa sampel
43
Kelas V dan VI sekolah dasar
Skor pengetahuan
93% → 100%
Sebelum dan sesudah permainan
Uji Wilcoxon
p < 0,001
Tertulis p = 0,000 dalam laporan studi

Penulis menyimpulkan bahwa permainan itu berdampak positif pada pengetahuan siswa tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Angka itu perlu dibaca dengan hati-hati.

Dari penelitian ini ada tiga pelajaran praktis. Pertama, ukur pengetahuan sebelum dan sesudah permainan dengan soal yang sama. Kedua, pilih materi yang belum dikuasai siswa. Ketiga, catat jumlah peserta dan cara penilaian.

Keterbatasan dan risiko yang perlu diwaspadai

Keterbatasan metode

  • Sampel 43 siswa belum cukup untuk menggeneralisasi hasil ke seluruh siswa sekolah dasar.
  • Persiapan butuh waktu dan bahan: kartu atau papan cetak, atau perangkat dan internet untuk kuis digital.
  • Isi materi harus diperiksa tenaga kesehatan sebelum dipakai, karena informasi yang keliru mudah terlewat.
  • Sekolah tanpa perangkat atau internet stabil bisa tertinggal jika kegiatan hanya bergantung pada kuis daring.
  • Tidak cocok untuk semua materi. Teknik menyikat gigi lebih mudah dipelajari lewat peragaan dan latihan langsung.

Risiko kecanduan game

  • WHO memasukkan gangguan bermain game (gaming disorder) ke dalam ICD-11, dengan definisi tekanan berarti atau gangguan signifikan dalam fungsi pribadi, keluarga, sosial, pendidikan, atau pekerjaan.
  • WHO mengumumkan ICD-11 berlaku pada 11 Februari 2022, dan gangguan ini ditempatkan dalam bagian gangguan adiktif.
  • WHO mengingatkan pemain untuk memperhatikan lama bermain, terutama jika mengganggu tanggung jawab sehari-hari.
  • Sumber yang diperiksa tidak menetapkan durasi bermain yang aman. Saran praktis berikut dari penulis, bukan rekomendasi resmi: atur jadwal bermain, pisahkan permainan edukasi dari hiburan, dan sisakan waktu diskusi setelahnya.

Cara menyusun game edukasi kesehatan yang layak dicoba

Langkah berikut bisa dipakai guru, kader, atau mahasiswa kesehatan yang ingin membuat permainan sendiri.

Contoh soal pre-test dan post-test

Berikut empat soal untuk materi kesehatan gigi di kelas awal sekolah dasar. Soal ini hanya contoh dan perlu disesuaikan dengan kelas serta materi yang diajarkan.

NoSoalKunci jawaban
1Berapa kali gigi sebaiknya disikat dalam sehari?Dua kali, yaitu setelah sarapan dan sebelum tidur.
2Apa penyebab utama gigi berlubang?Bakteri di mulut mengubah sisa gula menjadi asam yang merusak email gigi.
3Minuman apa yang paling baik untuk gigi?Air putih.
4Apa fungsi email gigi?Melindungi bagian dalam gigi dari kerusakan.

Pakai soal yang sama untuk pre-test dan post-test agar perubahan skor bisa dibandingkan langsung. Beri jarak waktu antara kedua tes, karena siswa mungkin masih ingat soal pre-test.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah game edukasi kesehatan efektif?

Bukti yang ada masih terbatas. Penelitian pra-eksperimen di Bandung mencatat kenaikan skor pengetahuan dari 93% menjadi 100%, tetapi studinya tidak punya kelompok pembanding. Untuk menilai efektivitas di kelas Anda, bandingkan hasil sebelum dan sesudah permainan dengan soal yang sama.

Apa bedanya game edukasi dengan game online biasa?

Game edukasi punya tujuan belajar yang jelas dan materi yang dirancang untuk topik tertentu. Game online pada umumnya dibuat untuk hiburan, sehingga tujuan belajarnya tidak selalu ada. Keduanya tetap game, jadi aturan waktu bermain tetap berlaku.

Berapa lama anak boleh bermain game edukasi?

Sumber yang diperiksa tidak menetapkan durasi standar. Atur waktu bermain sesuai jadwal belajar dan sisakan waktu untuk diskusi. Jika anak mulai kehilangan minat pada kegiatan lain atau sulit berhenti bermain, kurangi durasinya dan konsultasikan dengan orang tua atau tenaga kesehatan.

Apakah game edukasi kesehatan bisa dimainkan tanpa internet?

Bisa. Permainan papan dan kartu, seperti monopoli kesehatan gigi, tidak memerlukan internet. Kuis berbasis web seperti Bamboozle memerlukan perangkat dan koneksi internet.

Bagaimana cara mengukur keberhasilan permainan?

Gunakan pre-test dan post-test dengan soal yang sama, lalu bandingkan skornya. Catat juga jumlah peserta dan lama kegiatan. Jika ada kelas pembanding yang belajar dengan cara biasa, perbandingannya memberi bukti yang lebih kuat.

Siapa yang boleh membuat game edukasi kesehatan?

Guru, kader, dan mahasiswa kesehatan bisa membuat permainan sederhana. Namun, isi materinya sebaiknya diperiksa tenaga kesehatan yang kompeten sebelum digunakan di sekolah atau posyandu.

Kesimpulan

Game edukasi kesehatan bisa membuat materi seperti kesehatan gigi terasa lebih hidup. Namun, bukti dampaknya masih terbatas: penelitian di Bandung menunjukkan kenaikan pengetahuan tanpa kelompok pembanding, dan kegiatan di SDN 01 Cilandak Timur belum melaporkan hasil terukur.

Langkahnya sederhana. Mulailah dari satu topik kecil, buat pre-test dan post-test dengan soal yang sama, lalu catat hasilnya. Dengan begitu, permainan di kelas bisa dinilai dengan jujur, bukan hanya dari kesan bahwa anak-anak tampak senang.

Sumber